Buanasenanews.com, Bandung – Institut Teknologi Bandung (ITB) mengembangkan rumah bambu modular dengan sistem bongkar pasang atau knock-down sebagai alternatif hunian permanen yang kuat, fleksibel, dan lebih ramah lingkungan. Inovasi ini memanfaatkan teknologi rekayasa bambu serta sistem sambungan antarkomponen yang menyerupai kepingan Lego, sehingga bangunan mudah dirakit dan dirancang untuk menahan guncangan gempa. Purwarupa rumah tersebut telah dikembangkan di Kampus ITB Jatinangor.
Pengembangan ini menjawab sejumlah tantangan sekaligus: mulai dari terbatasnya pemanfaatan bambu sebagai bahan bangunan bernilai tinggi, kebutuhan hunian aman di wilayah rawan bencana, hingga panjangnya rantai produksi dan distribusi material konstruksi. Melalui pendekatan manufaktur vernakular, pengolahan bambu dapat dilakukan lebih dekat dengan masyarakat yang tinggal di kawasan penghasil bambu.
Inovasi ini diharapkan memberi manfaat bagi pemilik lahan bambu, pelaku usaha lokal, serta warga yang membutuhkan hunian layak—termasuk masyarakat terdampak bencana. Selain membuka peluang ekonomi berbasis sumber daya lokal, sistem ini memungkinkan penyediaan hunian tetap lebih cepat, sehingga masyarakat tidak berlama-lama di tempat pengungsian sementara. Pengembangan ini menghadirkan solusi perumahan yang menggabungkan keselamatan, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan ekonomi.
Mengoptimalkan Potensi Bambu Indonesia
Rumah Bambu Modular dikembangkan oleh tim lintas disiplin ITB yang dipimpin Permana, S.T., M.T., dari Program Studi Arsitektur, Sekolah Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan (SAPPK) ITB. Riset bertajuk “Pengembangan Arsitektur Knock-down System pada Desain Rumah Modular Berbasis Teknologi Bamboo Engineering” ini juga melibatkan peneliti dari Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati (SITH) ITB.
Pengembangan ini berangkat dari fakta bahwa potensi bambu di Indonesia belum dimanfaatkan secara optimal. Meskipun memiliki beragam jenis bambu, material ini masih sering dipandang sebagai bahan bangunan kelas dua yang identik dengan bangunan sementara atau darurat.
Salah satu tantangan utama penggunaan bambu adalah bentuk batangnya yang silindris, sehingga sulit langsung digunakan untuk memenuhi standar ukuran, ketebalan, dan lebar komponen konstruksi tertentu. Di sisi lain, pengolahan bambu untuk pasar premium sering membutuhkan biaya tinggi. Kondisi ini mendorong tim ITB mencari metode yang efisien, menggunakan beragam jenis bambu, namun tetap menghasilkan material berkualitas tinggi.
Sistem Interlock Serupa Kepingan Lego
Untuk mengatasi keterbatasan bentuk alami bambu, tim menerapkan teknik laminasi: batang bambu dipotong menjadi bilah kecil, kemudian direkatkan hingga mencapai ukuran dan ketebalan yang dibutuhkan sebagai komponen bangunan.
Tim mengeksplorasi penggunaan berbagai jenis bambu, antara lain bambu surat, bambu tali, bambu ampel, dan bambu mayan. Dengan demikian, produksi tidak lagi bergantung hanya pada bambu betung yang selama ini dominan digunakan pada bambu rekayasa.
Material laminasi kemudian dibentuk menjadi komponen profil dengan variasi panjang 30 dan 60 sentimeter. Komponen ini dirakit menggunakan sistem knock-down dengan mekanisme saling mengunci atau interlock. Pemasangan dilakukan berselang-seling untuk membentuk kuncian horizontal, sedangkan hubungan vertikal memanfaatkan gaya gesek. Susunan ruang padat dan kosong pada sistem ini menciptakan struktur yang kokoh namun tetap fleksibel menerima pergerakan akibat gempa.
Konsep modular ini membuat proses pembangunan menyerupai penyusunan kepingan Lego. Selain mempermudah perakitan, komponen dapat diproduksi terpisah, disimpan, dipindahkan, dan dipasang sesuai kebutuhan.
Mendekatkan Produksi ke Masyarakat
Rumah Bambu Modular ITB bukan sekadar produk arsitektur, melainkan bagian dari konsep manufaktur vernakular yang menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama dalam produksi komponen bangunan.
Peneliti SITH ITB, Dr. Rudi Dungani, menjelaskan proses produksi dapat dibawa ke kawasan sekitar hutan atau lahan bambu, menggunakan mesin manual ringan yang tidak bergantung pada pasokan listrik besar.
Dengan cara ini, masyarakat tidak hanya menjual bambu sebagai bahan mentah, melainkan dapat mengolahnya menjadi komponen bangunan permanen bernilai ekonomi lebih tinggi. Produksi di dekat sumber bahan baku juga memangkas rantai pasok dan biaya pengangkutan. Model ini membuka peluang ekonomi lokal, di mana masyarakat dapat terlibat mulai dari penanaman, pemanenan, pengolahan, hingga perakitan bangunan.
Alternatif Hunian Pascabencana dan Perumahan Nasional
Sistem modular memungkinkan komponen rumah diproduksi dan disimpan sebagai cadangan sebelum bencana terjadi, lalu dikirim dan dirakit saat dibutuhkan. Hal ini mempercepat transisi warga dari tenda pengungsian ke hunian layak, serta mendukung pemulihan sosial dan psikologis pascabencana.
Selain penanganan bencana, inovasi ini menjadi alternatif pemenuhan kebutuhan perumahan nasional. Penggunaan bambu sebagai sumber daya terbarukan juga menawarkan jalur konstruksi yang lebih berkelanjutan dibanding material dengan jejak karbon tinggi.
Menuju Ekosistem Hunian Bambu
Tim menargetkan pengembangan ekosistem lengkap berbasis bambu, tidak hanya struktur bangunan tetapi juga perabotan seperti tempat tidur dan meja makan. Upaya ini memerlukan kolaborasi lintas bidang: arsitektur, rekayasa material, kehutanan, desain produk, teknik sipil, manufaktur, hingga ekonomi dan pemberdayaan masyarakat.
Tim juga mendorong pencapaian Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) 100 persen serta konsep zero metal housing, di mana sambungan dan pasak menggunakan kayu atau bambu tanpa paku logam.
Melalui Rumah Bambu Modular, ITB membuktikan pengetahuan lokal dan teknologi modern dapat dipadukan menghasilkan solusi yang relevan. Bambu kini tidak lagi sekadar material tradisional, melainkan sumber daya strategis untuk membangun hunian aman, berkelanjutan, dan menyejahterakan ekonomi lokal. (Hn/Red)













