Lebak, – Aliansi Muda Banten Selatan (AMBAS) mendesak Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Provinsi Banten untuk segera turun tangan meninjau proyek pembangunan Daerah Irigasi (DI) Cilangkahan 1.
Permintaan ini muncul setelah AMBAS menemukan sejumlah kejanggalan di lokasi proyek yang menelan duit APBD Banten sebesar Rp4,59 miliar.
Firman Habibi, selaku aktivis AMBAS, mengungkapkan bahwa pihaknya mendapati masalah pada material yang digunakan dalam proyek, salah satunya terkait dengan kualitas besi.

“Kami menemukan besi yang digunakan diduga tidak sesuai standar. Setelah diukur, besi berukuran 10 mm hanya memiliki diameter antara 8 hingga 9 mm,” ujar Firman saat dikonfirmasi. Selasa, 17 September 2024.
Menurut Firman, temuan ini perlu segera ditindaklanjuti oleh pihak Dinas PUPR Banten untuk memastikan kebenarannya.
“Kami meminta agar Dinas PUPR Banten segera mengirim tim untuk memeriksa secara langsung ke lapangan. Jika sudah dicek, barulah bisa dibuktikan apakah temuan kami ini valid atau tidak,” tegasnya.
Firman juga menyoroti penggunaan semen Conch yang dipakai dalam proyek tersebut, yang menurutnya menimbulkan pertanyaan.
“Kami melihat semen Conch digunakan di proyek ini, sementara dalam E-Katalog LKPP tidak tercantum merek yang jelas maupun sertifikat Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN),” ungkapnya.

“Kami hanya ingin tahu, apakah produk ini yang seharusnya digunakan?” lanjut Firman.
Ia berharap, Dinas PUPR Banten dapat segera turun ke lokasi untuk melakukan pengujian kualitas material dan mutu beton secara terbuka.
“Kami tidak bermaksud menuduh, tapi kami butuh klarifikasi resmi dari pihak berwenang terkait temuan ini. Apakah penggunaan material ini sudah sesuai atau perlu diperbaiki?” pungkasnya.
Sampai berita ini dinaikan, wartawan masih berupaya untuk melakukan konfirmasi kepada Kabid SDA PUPR Banten dan Konsultan Pengawas Kegiatan D.I Cilangkahan 1. (Red-Bsn)












