Oleh:
Ns. Ade Firmansyah, S.Kep
NPM 20240000131
Mahasiswa Pascasarjana Magister Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia Maju (UIMA)
LEBAK, Buanasenanews.com– Penyakit jantung dan pembuluh darah hingga saat ini masih menempati urutan pertama penyebab kematian, baik di dunia maupun di Indonesia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas,2019) sebanyak 15 dari 1.000 orang atau sekitar 2.748.064 jiwa di indonesia menderta penyakit jantung dan pembuluh darah. Selain itu, data juga menunjukkan bahwa telah terjadi pergeseran usia pasien penyakit jantung yang tadinya banyak terjadi di usia tua, saat ini penyakit jantung juga dialami oleh kelompok usia muda (25 – 34 tahun).
Berdasarkan jenis kelamin, prevalensi Penyakit jantung terjadi lebih sering pada wanita dibandingkan dengan laki-laki. Penduduk perkotaan lebih banyak menderita Penyakit jantung dibandingkan penduduk pedesaan. Dalam kondisi gawat darurat, Penyakit jantung yang tidak tertangani dengan baik dapat mengakibatkan henti jantung hingga kematian.
Di tengah meningkatnya berbagai kasus kegawatdaruratan medis di ruang publik, mulai dari henti jantung mendadak, kecelakaan, hingga keadaan tidak sadar, masyarakat sering kali menjadi saksi pertama. Ironisnya, pada banyak kasus, waktu kritis yang seharusnya bisa dimanfaatkan untuk memberi pertolongan justru terlewat karena kurangnya pengetahuan dasar masyarakat mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD). Padahal, tindakan yang dilakukan pada menit-menit awal dapat menentukan apakah seseorang dapat diselamatkan atau tidak.
BHD bukanlah keterampilan yang rumit atau membutuhkan latar belakang medis. Prinsip-prinsip sederhana seperti memastikan kondisi aman, mengecek kesadaran, meminta pertolongan, dan melakukan kompresi dada dapat dipelajari oleh siapa saja. Di berbagai negara, pelatihan BHD bahkan sudah menjadi bagian dari kurikulum sekolah dan pelatihan wajib di tempat kerja. Hasilnya, tingkat kelangsungan hidup korban henti jantung meningkat secara signifikan karena masyarakat berani dan mampu mengambil tindakan sebelum tenaga medis tiba.
Sayangnya, kesadaran seperti ini belum sepenuhnya berkembang di Indonesia. Banyak masyarakat merasa takut berbuat salah atau mengambil tindakan karena tidak yakin dengan pengetahuan mereka. Rasa takut tersebut sebenarnya bisa ditekan melalui edukasi yang konsisten dan mudah diakses—dan inilah peran besar yang bisa dimainkan media elektronik.
Melalui pemberitaan, kampanye edukatif, program talk show, hingga konten visual yang informatif, media elektronik mampu menjangkau jutaan masyarakat dalam waktu singkat. Penjelasan tentang cara melakukan kompresi dada atau bagaimana menghubungi layanan darurat dapat diulang dan dipahami dengan lebih mudah jika disampaikan secara audio-visual. Media bahkan dapat menggandeng tenaga kesehatan atau lembaga kemanusiaan untuk mendemonstrasikan langkah-langkah BHD secara praktis.
Edukasi BHD seharusnya menjadi gerakan nasional. Pemerintah, institusi pendidikan, komunitas, dan media perlu berjalan beriringan untuk mendorong masyarakat memahami bahwa keselamatan seseorang bisa bergantung pada tindakan sederhana, namun tepat, dalam hitungan detik. Ketika lebih banyak orang terlatih BHD, lebih banyak nyawa yang dapat diselamatkan di sekitar kita, baik itu keluarga, rekan kerja, maupun masyarakat umum.
Pada akhirnya, mengenalkan BHD kepada masyarakat awam adalah investasi jangka panjang untuk keselamatan bangsa. Karena dalam situasi darurat, siapa pun bisa menjadi penolong pertama. Dan penolong yang memiliki pengetahuan adalah penolong yang memiliki kekuatan untuk menyelamatkan hidup. (*)












