BANDUNG, Buanasenanews.com– Kongres GMNI ke XXII Di Kota Bandung yang di Gelar pada 15 Juli 2025 Mencapai Titik Akhir Dinamika Kongres. Dalam Kongres GMNI Membahas 3 Komisi yaitu Komisi Organisasi, Komisi politik, dan Komisi Program dan Kaderisasi. Dalam Sidang Komisi Politik, seluruh Peserta Kongres GMNI Sepakat Menolak Usulan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia yang akan Menulis ulang sejarah. Hal itu disampaikan oleh para Peserta Kongres GMNI, pada Sabtu (26/07/2025).
“Tulis ulang Sejarah yang diinisiasi oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia di Nilai Sangat terburu-buru, sehingga menimbulkan Polemik. Tulis ulang sejarah yang terburu-buru tersebut dinilai Miskin Referensi, Miskin Materi. Sehingga menimbulkan Perdebatan Panjang. Adanya Pemotongan Peristiwa Sejarah, Seperti Tragedi 98, Tidak Adanya Kekerasan Verbal Terhadap Perempuan. Ini merupakan ketidakadilan”, ujar Ketua DPD GMNI Maluku Utara, M. Idhar Bakri pada awak media.
M. Idhar Bakri, Ketua DPD GMNI Maluku Utara menilai bahwa menulis ulang sejarah melukai bangsa Indonesia dan merupakan tindakan ketidakadilan. Apalagi ada wacana untuk mengusung Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Ini juga menjadi diskusi Khusus di kalangan Kader-Kader GMNI se Indonesia.
“Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Jasa, dan Tanda Kehormatan, ada syarat umum dan syarat khusus untuk mendapatkan gelar. Dalam pasal 25 Undang-Undang itu disebutkan syarat umum, antara lain WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi NKRI, memiliki integritas moral dan keteladanan, berjasa terhadap bangsa dan negara, berkelakuan baik, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, serta tidak pernah dipidana Penjara,” ungkap M. Idhar Bakri.
Senada dengan Leon Wilar, Ketua DPC GMNI Tomohon Sulawesi Utara menjelaskan bahwa merujuk ke beberapa Peristiwa Pelanggaran Berat HAM Maka Posisi Mantan Presiden Soeharto Tidak Layak Di Nobatkan Sebagai Pahlawan Nasional.
“Banyak peristiwa-peristiwa orde baru yang sangat menyakiti perasaan rakyat, apalagi keputusan Kongres GMNI ke XXII di Kota Bandung Yang Mengusung Tema Bersatu Melawan Penjajahan Gaya Baru, akan Melahirkan Kepemimpinan Nasional Yang Progresif & Revolusioner, menolak keras Penobatan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional,” pungkasnya. (MIR)












