Lebak, – Menjelang perayaan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru), pasar tradisional Muara Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, menghadapi tekanan ganda: lonjakan harga sembako dan penurunan stok ikan. Warga mulai mengeluh karena beban ekonomi semakin berat, Senin (15/12/2025).
Cabai rawit merah gandeng harga, sampai Rp 100 ribu/kg
Menurut pedagang Endin, kenaikan paling signifikan terjadi pada cabai. “Harga cabai rawit merah biasanya Rp 40 ribu/kg, kini jadi Rp 80-100 ribu/kg tergantung kualitas. Cabai merah keriting naik dari Rp 40 ribu jadi Rp 60 ribu/kg,” ujarnya kepada Buanasenanews.com.
Lainnya: bawang merah naik dari Rp 40 ribu jadi Rp 45 ribu/kg, telur ayam dari Rp 29 ribu jadi Rp 32 ribu/kg, dan kacang tanah menjadi Rp 50 ribu/kg. Sedangkan bawang putih (Rp 35 ribu/kg), tomat (Rp 8 ribu/kg), dan daging ayam (Rp 40 ribu/kg) masih bertahan.
Ikan mahal karena paceklik, banyak perahu tidak berlayar
Harga ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Binuangeun juga melonjak. Penjual ikan Eneng (45) menjelaskan: “Ikan bawal dari Rp 25 ribu jadi Rp 35 ribu/kg, ikan tongkol kecil dari Rp 8-10 ribu/ekor jadi Rp 15 ribu/ekor, pisang-pisang dari Rp 20 ribu jadi Rp 25 ribu/kg, dan cumi-cumi dari Rp 25 ribu jadi Rp 40 ribu/kg.”
Penurunan stok ikan disebabkan oleh paceklik yang membuat banyak nelayan tidak berlayar. Kiriman ikan beku dari kota juga semakin mahal, sehingga menaikkan harga di pasar lokal.
Warga cari alternatif, berharap situasi membaik. Pembeli Refida (33) mengaku terkejut dengan kenaikan harga, tapi tetap harus beli. “Kalau begini terus, harus cari alternatif seperti tahu/tempe atau sayuran,” katanya.
Warga berharap setelah Nataru, cuaca akan membaik sehingga nelayan dapat kembali melaut, stok ikan pulih, dan harga sembako serta ikan turun ke level yang lebih wajar. (K, San)












