Lebak, – Suasana perkampungan di kaki kawasan Gunung Halimun Salak di Kecamatan Cibeber Kabupaten Lebak, Banten pagi itu terlihat awan putih.
Cuaca terasa dingin pagi itu, namun tidak menghalangi bagi warga untuk merayakan tradisi Seren Taun untuk berkumpul di rumah Kasepuhan Cisungsang.
Masyarakat menggunakan pakaian dan celana adat dengan warna serba hitam dengan rasa gembira menyambut tradisi Seren Taun yang dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai bentuk wujud rasa syukur hasil panen.
Perayaan tradisi itu sejak turun temurun hingga ribuan tahun dan dilaksanakan pada bulan Rayagung dalam kalender masyarakat Sunda.
Para tamu undangan pun terdiri dari pejabat Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Pemerintah Provinsi Banten dan Kabupaten Lebak hingga pemerhati budaya satu persatu menghadiri Seren Taun Kasepuhan Cisungsang.
Tradisi ritual upacara adat dilaksanakan pada hari Minggu (29/9) bertempat di depan Leuit Si Jimat.
Leuit artinya tempat dan jimat artinya sesuatu yang dianggap berharga, istilah Jimat dianggap memiliki sesuatu kekuatan magis yang dapat membawa keberuntungan atau keberkahan.
Upacara adat dimulai dengan datangnya rombongan arak-arakan padi yang ditandu oleh empat orang rendangan, tandu tersebut berisi padi indung diiringi para dayang-dayang gadis remaja lengkap dengan baju kebaya dan kain sampingnya.
Setelah menjalani upacara, dilanjutkan dengan memasukan padi-padi yang diarak ke dalam Leuit Si Jimat sambil diiringi puji-pujian: “Ayeuna Si Nyai Ku Kami Diamitkeun”, artinya: “Sekarang Si Nyai oleh kami dirapikan”.
Padi yang pertama kali dimasukan adalah padi indung kemudian padi yang lainnya sambil membaca doa dan pembakaran kemenyan agar pelaksanaan ritual berjalan lancar.
Angklung buhun yang berada di samping Leuit Si Jimat ikut mengiringi puji-pujian dibarengi dengan petikan kecapi serta tiupan suling sehingga kondisi perayaan Seren Taun pun semakin hening dan khusyuk.
Ritual tradisi Seren Taun itu merupakan berkah hasil panen padi dengan masa panen tiga bulan juga ada yang enam bulan untuk memenuhi ketersediaan pangan keluarga.
“Kami merayakan ritual tradisi Seren Taun ini mengucapkan rasa syukur kepada Allah SWT atas limpahan rejeki hasil panen padi,” kata Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang Abah Asep belum lama ini.
Selamatkan
Masyarakat adat Kasepuhan Cisungsang yang lokasinya berbatasan dengan Sukabumi Jawa Barat hingga kini tradisi Seren Taun masih dipertahankan sebagai budaya peninggalan nenek moyang leluhur.
Budaya itu cukup sakral dan harus diselamatkan karena mememiliki makna yang filosofis dalam membangun kerukunan, keharmonisan, gotong royong hingga saling hormat menghormati dan etika sopan santun.
Apalagi, Indonesia sebagai negara yang multi etnis, multikultur dan multiras, dibangun oleh ratusan suku bangsa dan ribuan kelompok masyarakat hukum adat dengan latar belakang budaya yang berbeda satu sama lain.
Kemajemukan masyarakat penduduk Indonesia itu bukan saja dibentuk karena keberagaman etnis, melainkan juga perbedaanya dalam latar belakang sejarah, kebudayaan, agama dan sistem kepercayaan yang dianut, serta lingkungan geografisnya.
Perbedaan tersebut mampu dibingkai menjadi visi yang sama yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) menuju kehidupan yang sejahtera, makmur, subur sehingga dapat mewujudkan kedaulatan pangan.
Dalam prakteknya, tercatat 2.577 komunitas adat dengan latar belakang budaya yang berbeda yang ada di Indonesia (Catatan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Desember 2023).
Di Provinsi Banten, tepatnya di Kabupaten Lebak, terdapat dua tipologi masyarakat adat berdasarkan Peraturan Daerah ( Perda) No. 32 tahun 2001 tentang Perlındungan Atas Hak Ulayat Masyarakat Badui dan Perda No. 8 Tahun 2015 tentang Pengakuan, Perlindungan dan Pemberdayaan Masyarakat Adat Kasepuhan.
Upaya pemerintah untuk mengakui keberadaan masyarakat adat di Kabupaten Lebak tertuang dalam perda tersebut, sehingga membuktikan keseriusan negara untuk hadir ditengah tengah keberlangsungan kehidupan masyarakat adat.
Eksistensi masyarakat adat kasepuhan di Kabupaten Lebak yang didukung oleh pemerintah berimplikasi terhadap kuatnya identitas dan jatidiri asli, terjaminnya hak-hak masyarakat adat, dan kebebasan masyarakat adat untuk melaksanakan tatali paranti karuhun yang menjadi ruh dari kehidupan masyarakat adat itu sendiri.
Dengan demikian, pihaknya sebagai tetua Adat Kasepuhan Cisungsang diberikan sepenuhnya untuk melestarikan dan penyelematan budaya Seren Taun.
Sebagai sebuah perhelatan budaya, event Seren Taun mempunyai kemasan unik, dimana satu sisi Seren Taun sebagai identitas budaya mempunyai formasi sebagai pertahanan masyarakat adat kasepuhan.
Sisi lainya sebagai objek wisata budaya, Seren Taun mampu menyuguhkan atraksi dan hiburan unik bagi masyarakat luas.
Dua hal berbeda ini tentunya dikemas melalui promosi budaya yang berbasis kearifan lokal.
Hal ini memberikan ekslusifitas tersendiri, Seren Taun mampu menyajikan tradisi adat istiadat, kesenian lokal, ritual adat, bahkan tampilan kesenian modern yang membuktikan bahwa Kasepuhan Cisungsang adaptif terhadap dinamika perkembangan budaya manusia.
Pada penyelenggaraan Seren Taun Cisungsang, terdapat 2 kategori event, yaitu kegiatan yang bersifat tradisi yang jenis dan jadwalnya tidak berubah, dan satu kegiatan pendukung (side event) yaitu menampilkan sisi budaya dan wisata serta edukasi yang disuguhkan kepada pengunjung.
Tanpa krisis
Masyarakat Kasepuhan Cisungsang yang tersebar di sembilan desa hingga kini belum pernah terjadi krisis pangan karena hasil panen selalu melimpah dan tidak diperjualbelikan.
Persediaan hasil panen selalu terpenuhi dengan penduduk sekitar 9.000 kepala keluarga (KK) dan rata-rata satu KK memiliki dua lumbung pangan sehingga total sebanyak 18.000 leuit.
Masyarakat adat itu membangun Leuit yang biasanya didirikan di belakang rumah, karena lokasinya dekat dengan dapur dan mudah untuk mengambilnya.
Bahkan, padi dalam Leuit itu terdapat hasil panen 20 tahun lalu.
Persediaan pangan gabah padi huma dan padi sawah dapat memenuhi konsumsi keluarga juga untuk menggelar pernikahan, sunatan maupun pesta adat.
Selama ini, masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum pernah mengalami kerawanan pangan maupun kelaparan, meski terserang hama atau penyakit yang mengakibatkan gagal panen.
Sebab, mereka memiliki stok padi yang disimpan di rumah pangan sebagai cadangan ketahanan pangan keluarga.
Masyarakat adat juga hingga kini warganya tidak pernah membeli beras, sekalipun dilanda COVID maupun paceklik.
Selain itu juga masyarakat adat kini juga mendapatkan bantuan sosial sebanyak 10 kg beras dari Badan Pangan Nasional (Bapanas), karena masuk Keluarga Penerima Manfaat (KPM).
Pemberian beras itu tentu dapat memenuhi ketersedian pangan juga mengurangi beban ekonomi.
Saat ini, masyarakat Kasepuhan Cisungsang belum ditemukan kasus gizi buruk maupun anak stunting berdasarkan laporan Puskesmas Cibeber 2024.
Kebanggaan
Ketua Adat Kasepuhan Cisungsang menyatakan momentum pelaksanaan upacara Seren Taun memiliki kebanggaan dengan menerima penghargaan Kharisma Event Nusantara (KEN) 2024 dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
Penghargaan KEN itu atas penyelematan budaya kearifan lokal yang hingga kini masih bertahan dan dilaksanakan setiap setahun sekali.
Pelaksanaan panitia seren taun yang dilaksanakan 22 – 29 Oktober 2024 lalu melibatkan 2.288 masyarakat setempat juga 660 UMKM dan puluhan ribu wisatawan.
Karena itu, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno yang pertama kali budaya Seren Taun Cisungsang menerima penghargaan KEN 2024.
Staf Ahli Menteri Bidang Manajemen Krisis di Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) Fadjar Hutomo mengatakan pihaknya mendukung pengembangan kegiatan wisata, baik itu kegiatan pariwisata maupun event budaya.
Kolaborasi antara Kemenkraf, Pemerintah Provinsi Banten, dan Pemerintah Kabupaten Lebak menjadi kunci dalam memajukan destinasi wisata untuk menarik lebih banyak wisatawan.

Keindahan alam dan keberagaman budaya di Banten, tentunya memiliki daya tarik yang sangat besar, sehingga setiap tahun diberikan kesempatan untuk mencalonkan event KEN terbuka bagi seluruh pemerintah daerah di Indonesia.
Mereka dapat mengajukan usulan dan sebanyak 110 event terpilih untuk mendapatkan dukungan pendanaan dari Kemenparekraf.
Pada 2024 Kabupaten Lebak merupakan satu-satunya daerah di Provinsi Banten yang berhasil masuk dalam daftar KEN dengan tiga destinasi Budaya Seren Taun, Budaya Festival Seni Multatuli dan Budaya Seba Badui.
Dimana penghargaan KEN itu dapat menyelamatkan kearifan budaya lokal yang mampu mendatangkan wisatawan domestik dan mancanegara.
Destinasi wisata budaya yang dikelola dengan baik akan mampu mendatangkan kunjungan wisatawan dan pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan ekonomi serta menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat setempat.
Untuk pendukung destinasi pariwisata itu tentunya harus ada tiga aspek utama yang menjadi fokus dalam menarik wisatawan, yaitu atraksi, amenitas, dan aksesibilitas.
Karena itu, pentingnya meningkatkan sarana infrastruktur guna mempermudah akses ke kawasan wisata dengan memastikan kondisi jalan yang baik, sehingga para pengunjung dapat tiba dengan nyaman.
Kemenkraf komitmennya untuk terus bekerja sama dengan pemerintah daerah demi mewujudkan destinasi wisata Banten yang mendunia.
Pj Sekretaris Daerah Banten, Virgojanti, menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memajukan budaya lokal sebagai potensi destinasi wisata untuk memberikan dampak positif bagi ekonomi masyarakat.
Pemerintah daerah berupaya untuk melindungi nilai-nilai budaya yang merupakan kekayaan kearifan lokal.
Dalam upaya tersebut, Pemprov Banten telah mengeluarkan Peraturan Daerah (Perda) Nomor 2 Tahun 2024 tentang Pemajuan Kebudayaan Daerah.
“Harapannya, dengan adanya regulasi ini, peningkatan kunjungan wisatawan domestik dan mancanegara dapat berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi daerah,” katanya. (Hn/Red)












