Ancaman Rokok pada Gen Z Calon Pemimpin Masa Depan

Jakarta, – Rokok adalah salah satu faktor utama yang bisa meningkatkan risiko tuberkulosis atau TBC /TB. Bahaya rokok sebagai pintu masuk penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis ini mengemuka dalam talk show “Your Lungs, Your Choice: Membangun Generasi Muda untuk Bebas dari Rokok dan TBC” di Jakarta (22/11).

Dalam sambutannya, Ketua Perkumpulan Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI) Yani Panigoro menegaskan PPTI berkomitmen untuk mencetak generasi muda yang sehat dan bebas TBC!

“Gen Z adalah calon pemimpin bangsa di masa depan. Jadi harus sehat, bebas TBC dan jauh dari rokok,” tegas Yani.

PPTI sebagai organisasi masyarakat yang membantu pemerintah menanggulangi TBC pun rutin menggelar edukasi dan advokasi, termasuk untuk Gen Z, agar lebih sadar akan akan bahaya TBC, sebab siapapun bisa terkena TBC.

“Dengan pendekatan yang tepat, edukasi tentang bahaya TB, lebih mudah diterima remaja,” imbuh Yani lagi.

Sementara itu, spesialis paru, dr. Agi Hidjri Tarigan, M.Ked (Paru), Sp.P mengungkapkan TBC termasuk penyakit menular yang mematikan. Tak hanya ada TB Sensitif Obat, juga ada TB Resisten Obat dan TB XDR atau TB resisten semua obat.

Dalam talkhow yang digelar di Universitas Budi Luhur ini, dr. Agi juga menyoroti rokok sebagai faktor risiko utama tertular TBC.

“Perokok memiliki risiko dua kali lebih besar terkena TBC dibandingkan bukan perokok. Kebiasaan merokok juga memperburuk kondisi penderita TBC.”

Pada perokok pasif, risiko ini bahkan 4,5 kali lebih besar dibanding dengan orang yang tidak terpapar asap rokok.

“Kandungan zat berbahaya yang terdapat dalam rokok dapat mengganggu sistem kekebalan tubuh. Selain itu, asap rokok pun dapat merusak silia yang bertugas untuk menggerakkan benda asing, termasuk kuman, bakteri, dan virus keluar dari saluran pernapasan. Itu sebabnya perokok menjadi lebih rentan tertular tuberkulosis.”

Berdasarkan data Global TB Report 2023, Indonesia menempati posisi kedua dengan jumlah kasus TBC terbanyak di dunia, setelah India. Setiap tahunnya, diperkirakan terdapat 1.060.000 kasus TBC dan 134.000 kematian akibat penyakit tersebut di Indonesia. Untuk itu, dr. Agi mengajak Gen Z untuk ikut terlibat memutus mata rantai TBC dengan gaya hidup sehat, tidak merokok dan TOSS TB! Temukan, Obati, Sampai Sembuh TBC!

Bahaya merokok juga dilontarkan aktivis anti rokok Rama Tantra S. Solikin, SKM. Saat ini, ada 70 juta perokok aktif. Celakanya, 56,5 % usia perokok 15 – 19 tahun.

Rama menyoroti sejatinya kampus adalah kawasan tanpa rokok.

“Sudah saatnya kita memutus mata rantai merokok,” pungkas Rama.

Stop Stigma TBC

Terkait stigma penyakit TBC, Faradiba Zalika Fatah, S. Ked juga berbagi cerita tentang pengalamannya menjadi penyintas TB semasa kuliah.

“Berat sekali menjalani pengobatan TBC. Sebab, saya termasuk TB XDR atau TB resisten semua obat. Efek sampingnya luar biasa. Mual, muntah setiap hari,” ungkap Fara.

Meskipun berat, Fara tidak menyerah untuk menjalani pengobatan sampai sembuh total. Rutin minum obat, makan bergizi dan olahraga.Beruntung Fara mendapat dukungan keluarga.

“Jangan kucilkan pasien TBC. Stop stigma TBC. Mereka butuh dukungan keluarga . lingkungan dan kita semua untuk sembuh,” pesan Fara.

Target eliminasi TBC 2030 bisa dicapai bila didukung oleh komitmen yang kuat dari seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat.

Perlu kolaborasi antara program pengendalian konsumsi rokok dan penanggulangan TBC, seperti dukungan layanan Upaya Berhenti Merokok (UBM) pada penderita TBC, menerapkan Kawasan Tanpa Rokok (KTR), menciptakan rumah bebas asap rokok dan memasukkan terapi pengganti nikotin dalam layanan penanganan TBC. (Hn/Red)