Buanasena Media,- Polemik tambang nikel di Raja Ampat kembali mencuat ke permukaan. Spanduk penolakan, aksi mahasiswa, dan pernyataan tokoh adat bermunculan. Namun, di tengah riuhnya gelombang protes, Founder Lingkar Kajian dan Riset Aktual Ivanka Baduy mengingatkan bahwa perjuangan menyuarakan lingkungan harus tetap menjunjung kejernihan nalar dan kemurnian gerakan.
“Saya sepakat bahwa Raja Ampat harus dijaga. Itu bukan cuma aset Papua, tapi aset dunia. Tapi kalau kita langsung menunjuk satu orang dan menyalahkan semuanya ke dia, tanpa melihat sejarah izinnya, kita bisa terjebak pada gerakan emosional yang tidak solutif,” ujar Ivanka.
Pernyataan Ivanka ini merespons kecenderungan sebagian elemen yang menjadikan persoalan tambang di Raja Ampat sebagai ajang serangan personal terhadap pejabat tertentu, khususnya Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia. Padahal, menurut catatan sejumlah lembaga, mayoritas izin tambang di wilayah tersebut telah diterbitkan jauh sebelum Bahlil menjabat.
Fakta di Lapangan Lebih dari 500 hektare hutan tropis di pulau Gag, Kawe, dan Manuran telah dibuka untuk aktivitas tambang nikel,
Kemudian Greenpeace dan WALHI menyebut sedimentasi akibat tambang merusak terumbu karang dan ekosistem laut Raja Ampat.
mengingat juga Izin-izin tambang mayoritas dikeluarkan sejak awal 2000-an. bukan pada masa Bahlil sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
kemudian kita lihat juga Masyarakat adat dan pelaku wisata menolak karena tambang mengancam sumber ekonomi dan budaya mereka, bahkan Komisi IV DPR RI Telah meminta audit CSR tambang dan evaluasi izin yang dinilai tidak transparan.
Ivanka juga menegaskan pentingnya menjaga integritas gerakan mahasiswa agar tetap independen, tidak menjadi alat framing atau agenda politik tertentu.
“Kita harus jaga betul gerakan ini agar tetap murni. Jangan sampai ada yang memesan. Jangan sampai ada yang diuntungkan di belakang layar. Mahasiswa tidak boleh jadi alat framing politik siapa pun,” tegasnya.
Ia mengajak mahasiswa untuk tidak hanya menjadi pengkritik, tetapi juga menjadi penyampai solusi Gerakan mahasiswa, katanya, harus menjadi sumber harapan, bukan sekadar pelampiasan kemarahan.
Sebagai bentuk tanggung jawab moral, Ivanka menyampaikan bahwa mahasiswa bisa dan harus mengusulkan langkah-langkah penyelesaian yang menyentuh akar masalah. Berikut beberapa usulan yang menurutnya perlu diperjuangkan bersama, Diantaranya :
1. Mendesak penghentian sementara penerbitan izin tambang baru di pulau-pulau kecil dan kawasan konservasi seperti Raja Ampat. Sebelumnya, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) juga sudah mengambil langkah tegas dengan memberhentikan sementara aktivitas tambang di beberapa lokasi untuk mengkaji dampak sosial dan lingkungan secara lebih mendalam.
2. Evaluasi seluruh izin tambang yang dikeluarkan, termasuk aspek lingkungan, sosial, dan administrasi. Izin bermasalah harus dicabut.
3. Terapkan prinsip Free, Prior and Informed Consent (FPIC) dalam setiap rencana eksplorasi atau eksploitasi.
4. Dorong Ekonomi Alternatif Berbasis Ekowisata dengan mengalihkan arah pembangunan ke sektor wisata bahari, konservasi laut, dan perikanan berkelanjutan.
5. Wajibkan publikasi data AMDAL, laporan CSR, serta pengawasan partisipatif berbasis masyarakat lokal.
6. Advokasi Raja Ampat sebagai Kawasan Bebas Tambang Dunia misalnya Dorong pengakuan UNESCO atas Raja Ampat sebagai warisan dunia bebas tambang untuk perlindungan jangka panjang.
“Kita boleh keras dalam sikap, tapi tetap harus jernih dalam cara pandang. Kritik itu penting, tapi solusi jauh lebih mulia. Kalau bukan mahasiswa yang menjaga integritas gerakan ini, siapa lagi?”, Ucap Ivanka
“Gerakan mahasiswa harus menjadi cahaya, bukan bara api yang membakar tanpa arah”, pungkas Ivanka. (Hn)












