Lebak,- Lahan kosong yang dulu tak terpakai di Desa Pecangpari, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, Banten, kini disulap menjadi kebun kopi produktif oleh Humaedi, atau yang akrab disapa Kang Umeng.
Umeng memanfaatkan tanah seluas 100×100 meter untuk menanam 1.000 pohon kopi jenis Robusta Ateng. Dengan jarak tanam 2×2 meter, Umeng berharap dalam beberapa tahun ke depan, kebunnya bisa menghasilkan panen berkualitas tinggi dan menjadi contoh bagi warga lainnya.

“Saya ingin warga di Cigemblong dan Cijaku yang punya lahan kosong ikut mengembangkan kopi juga. Sekarang saja harga kopi per kilo bisa sampai Rp70 ribu hingga Rp80 ribu,” ujar Umeng saat ditemui di kebunnya, Selasa (27/5/2025).
Saat itu, Umeng sedang memangkas cabang-cabang liar pada batang kopi, bagian dari perawatan rutin agar tanaman tumbuh subur. Menurutnya, kopi jenis Robusta Ateng cocok ditanam di daerah Lebak yang memiliki ketinggian cukup dan iklim mendukung.
Senada dengan Umeng, Dana Sudarna selaku Pendamping Lokal Desa (PLD) Kecamatan Cijaku juga mendorong para petani muda untuk mulai belajar teknik bertani modern, seperti sistem tumpang sari dan penggunaan pupuk organik.
“Banyak petani di desa yang belum paham pemupukan yang benar, padahal bisa pakai kohe kambing, sapi, atau ayam. Kalau semua tanaman ditanam asal-asalan tanpa sistem, hasilnya pasti kurang maksimal,” jelas Dana.
Dana pun menyambut baik inisiatif Umeng yang bisa jadi inspirasi petani lain. Ia optimistis jika kopi dikelola serius, bukan tak mungkin Kecamatan Cigemlong dan Cijaku akan dikenal sebagai sentra kopi unggulan di Banten.
Dari kisah Umeng ini kita bisa belajar bahwa dengan kemauan dan kerja keras, lahan tidur pun bisa menjadi sumber penghasilan. Tak hanya menguntungkan secara ekonomi, budidaya kopi juga berpotensi membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar. (Subandi)












