LEBAK  

Tiga Orang Penambang Ditemukan Tewas di Dalam Galian Batubara

Lebak – Diduga tersengat aliran listrik di dalam lubang galian, tiga orang penambang batubara di temukan meninggal dunia, di Blok Ayam Jago kawasan perum perhutani BKPH Bayah KPH Banten, kampung Cibobos, desa Karangkamulyan, kecamatan Cihara, kabupaten Lebak Banten

Kejadian tersebut sempat menggemparkan warga kampung Cibobos pasalnya, Tiga orang penambang yakni, Rois (28), Yanta dan Puji, di temukan terbujur kaku dalam satu lubang yang sama pada hari Selasa, (4/6/2024), setelah pemulasaraan di rumah duka, Ketiganya langsung di makamkan di TPU kampung setempat

Menurut ‘Alinta’ selaku orang tua dari salah satu korban, pada saat kejadian dirinya hanya mendapatkan informasi dari warga dan tidak ikut ke tempat kejadian perkara (TKP), mengingat, kondisi badannya yang sudah renta sehingga tidak kuat jika harus ikut ke lokasi

“Iya ketiganya meninggal di dalam lubang galian batubara, yang nama Rois itu anak saya dan yang duanya lagi masih saudara juga, semuanya warga kampung cibobos, saya juga tidak menyangka padahal saya selaku orangtuanya yang sering sakit-sakitan mah tapi ternyata takdir berkehendak lain” terangnya, Rabu (5/6/2024).

Ia juga mengatakan, sudah ada yang memberikan sedikit uang yang mungkin menurutnya sebagai rasa bela sungkawa dari pihak pembeli batubara atau yang disebutnya tokeh

“Tadi pagi ada orangnya kesini tapi saya lupa namanya” pungkasnya singkat.

Galian batubara di wilayah tersebut merupakan galian ilegal, karena berada di dalam kawasan milik perum perhutani di bawah pengawasan bagian kesatuan pemangkuan hutan (BKPH), bayah. adanya kejadian ini petugas perum perhutani menjadi sorotan banyak pihak

sudahkah di lakukan upaya pencegahan karena jika melihat UU no. 18 tahun 2013 tentang pencegahan dan pemberantasan perusakan hutan, seharusnya pengamanan hutan sudah dilakukan sejak dini, Karena apabila perum perhutani tidak melaporkan akan di kenakan sanksi dianggap melakukan pembiaran sesuai ketentuan pasal 104.

Sementara ‘Lukyta S’ Selaku asisten perhutani (Asper) BKPH bayah, saat ditemui di kantornya membenarkan kejadian tersebut, dirinya pun sangat menyayangkan atas terjadinya hal itu, karena menurutnya upaya pencegahan telah cukup dilakukan oleh petugas perum perhutani

“Ya kejadian itu di kawasan perum perhutani masuk di BKPH bayah, terkait persoalan ini sudah saya laporkan ke polsek karena untuk tindakan penyidikan terkait persoalan ini, adanya di ranah kepolisian, dan supaya TKP tetap steril sementara di mohon tidak ada yang medekati TKP, untuk selanjutnya kami menunggu informasi dari kepolisian” terangnya

Lebih lanjut, Asper menerangkan upaya maksimal pencegahan galian batubara di wilayah tersebut sudah cukup dilakukan namun demikian, Karena mungkin faktor ekonomi di masyarakat sehingga, bisa di sebutkan kucing-kucingan antara petugas perhutani dengan masyarakat itu sering terjadi

“Kita larang dan tutup di sebelah barat galiannya, mereka pindah dan menggali lagi di sebelah timur, sebetulnya cape” sambungnya

Demi mengatasi dan mengantisipasi kejadian serupa Asper mengharapkan peran serta dari seluruh elemen baik itu, pemerintahan desa, kecamatan, bahkan seluruh masyarakat agar tidak ada lagi korban-korban selanjutnya. (Endang.S)