Menu MBG SMAN 1 Cigemblong Diberikan Mentah dan Diduga Tidak Layak Konsumsi, Menimbulkan Kecaman Publik

Lebak — Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi pelajar menuai kecaman publik setelah video pembagian menu dalam kondisi mentah kepada siswa SMAN 1 Cigemblong, Kabupaten Lebak, viral di media sosial pada Jumat (23 Januari 2026).

Dalam video yang beredar, terlihat bahan makanan diberikan tanpa diolah dan tidak siap konsumsi. Siswa menerima tahu satu buah, jagung mentah empat potong, telur mentah satu butir, susu kotak Cimory, serta lengkeng dua hingga tiga biji. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan keamanan pangan bagi peserta didik, yang menyampaikan bahwa makanan tidak layak dikonsumsi langsung dan berpotensi membahayakan kesehatan jika tidak ditangani dengan benar.

Keluhan serupa juga terjadi pada Kamis (22 Januari 2026), ketika siswa menerima menu bihun, keripik tempe, orak-arik telur, nasi kuning, serta buah melon yang diduga basi dan berlendir. Kondisi ini memicu pertanyaan terkait standar kualitas dan pengawasan dapur penyedia MBG.

Menanggapi hal tersebut, Ketua Gerib Jaya Tanue Wijaya menyampaikan kritik keras. Ia menilai peristiwa ini bukan sekadar kesalahan teknis, melainkan mencerminkan lemahnya sistem pengawasan dalam pelaksanaan program nasional.

“Ini bukan kelalaian kecil. Jika benar makanan mentah dan diduga tidak layak konsumsi dibagikan kepada anak sekolah, maka ini adalah bentuk pembiaran yang tidak bisa ditoleransi. Program negara tidak boleh dijalankan secara asal-asalan,” tegas Tanue.

Ia mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menyuplai MBG ke sekolah tersebut, serta melakukan audit kualitas pangan agar kejadian serupa tidak terulang.

Dapur SPPG yang bersangkutan diduga berada di bawah naungan Yayasan Permas Agung. Hingga saat ini, pihak pengelola dapur maupun yayasan terkait belum memberikan klarifikasi resmi. Kasus ini menjadi peringatan bagi pemerintah agar tidak mempertaruhkan kesehatan generasi muda dalam pelaksanaan program. (Red-Bsn)