LEBAK  

Harga Kedelai Terus Merangkak Naik, Pengrajin Tahu di Malingping Terjepit Biaya Produksi

Lebak,Buanasenanews- com – Sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Kecamatan Malingping kini tengah menghadapi masa sulit. Kenaikan harga bahan baku kedelai yang terus terjadi dalam beberapa pekan terakhir mulai mengancam keberlangsungan usaha para pengrajin tahu lokal.

Raheli, salah satu pengrajin tahu asal Kampung Nambo, Desa Pagelaran Kecamatan Malingping Kabupaten Lebak Banten, mengungkapkan keresahannya terhadap kondisi pasar saat ini. Menurutnya, harga kedelai yang merupakan bahan baku utama terus melonjak tanpa diiringi kenaikan harga jual tahu di tingkat konsdisi.

“Kondisinya makin berat bagi kami pengrajin kecil. Harga kedelai naik terus, dari yang biasanya membeli 10.000 per kilo kini menjadi 12.500 per kilogram, sementara kalau kami mau naikkan harga tahu, pembeli pasti komplain,” ujar Raheli saat ditemui di rumah produksinya, Rabu (8/4).

Ia menambahkan bahwa margin keuntungan kini semakin menipis. Untuk menyiasati kerugian, Raheli terpaksa melakukan efisiensi ketat, meskipun ia enggan mengecilkan ukuran tahu secara drastis demi menjaga kepercayaan pelanggan setianya di pasar Binuangen.

Bukan Hanya Kedelai: Plastik dan Logistik Ikut Naik

Kenaikan harga kedelai hari ini hanyalah satu dari sekian beban yang harus dipikul pelaku UMKM. Berdasarkan pantauan pasar, kenaikan juga merembet ke bahan pendukung lainnya:

Plastik Pengemas: Harga plastik pembungkus tahu naik sekitar 15%, menambah beban operasional harian.

Bahan Bakar & Logistik: Kenaikan biaya transportasi turut memicu naiknya harga barang-barang pendukung seperti kayu bakar atau gas LPG untuk proses perebusan.

Secara umum, harga kebutuhan dapur lainnya juga mengalami fluktuasi, yang secara tidak langsung menurunkan daya beli masyarakat terhadap produk olahan kedelai.

Raheli juga berharap Pemerintah segera turun tangan untuk menstabilkan harga kedelai di tingkat nasional. Tanpa adanya intervensi atau subsidi harga, khawatir banyak produsen tahu rumahan yang akan gulung tikar.

“Kami hanya ingin harga kembali stabil. Kalau terus begini, bukan tidak mungkin produksi akan berhenti sementara karena modalnya tidak tertutup oleh hasil penjualan,” pungkas Raheli. (Red-Bsn)