BSN Media, -Mitos akan penguasa pantai Selatan Jawa adalah bagian dari kehidupan masyarakat Jawa khususnya mereka yang tinggal di pesisir selatan Jawa maupun di kalangan mereka yang menekuni mistis ataupun kebudayaan
Bahkan, mitos ini sudah merasuk sangat dalam di masyarakat kita mengingat berjilid-jilid film ditahun 80-90an yang menceritakan tentang ratu cantik penguasa alam lelembut ini telah dibuat dan menjadi sumber hiburan ataupun ketakutan bawah sadar sebagian masyarakat kita.
Bertahun-tahun wajah itu, gambaran orang tenggelam ditarik lelembut, bayangan kuda-kuda menarik kereta kencana datang & pergi membelah air terpatri dalam benak sebagian besar rakyat penonton setia film jadul.
Bukan hanya masuk ke hati, tapi meluas lintas budaya, cerita mulut ke mulut akan penghormatan pada sosok astral ini telah akrab oleh masyarakat pesisir selatan Jawa Barat maupun Banten yang awalnya berbeda adat dan bahasa.
Kadang begitu menakutkannya Ratu Pantai Selatan ini, dia bisa menjadi bahan teror untuk anak kecil, dia bisa membawa anak – anak nakal yg banyak tanya untuk dipeliharanya di kerajaan dasar lautnya, ya begitulah salah satu cara orang dewasa dulu saat menyuruh anak anak menuruti kemauan mereka, dan biasanya manjur mengingat cerita ini sudah mengakar menjadi bagian dari keseharian masyarakat kita tempo doeloe.
Tapi sering pula pikiran anak kecil ini mempertanyakan, kalau sakti, melindungi dan menjadi istri sang Raja turun temurun – immortal, koq Sultan Agung ga bisa menguasai Batavia? Koq Trunojoyo bisa menjebol benteng istana Plered? koq dibiarkan Inggris mengambil harta keraton saat Geger Sepehi?
Kalau Sang Ratu ini benar-benar ada, seperti yang di kisahkan oleh keraton itu sendiri dan diperkuat di film-film atau cerita rakyat, dimana sumbangsihnya dalam rentetan sejarah? Koq dia selalu absen untuk sekedar mempertahankan istana Mataram, berapa kali kraton Mataram hancur ludes, pindah – pindah karena pemberontakan, perebutan kuasa ataupun dijarah orang asing.
Koq malah yang selalu yang tampil membantu para Sultan Mataram itu Belanda ya? Apa sosok lelembut cantik ini sebenarnya Ratu Belanda? Atau justru orang Belanda yang lebih rasional sehingga tahu bagaimana sedikit demi sedikit mampu menaklukkan bangsa yang dikuasai takhayul yang dibalut dalam budaya yang kuat?
Ya begitulah kadang pikiran anak kecil masa lalu yang mempertanyakan konsistensi generasi pendahulunya, dan ketika mempelajari sejarah pun, terselip pula pertanyaan, eh kapan ya Nyi Ratu Kidul ini dilahirkan? Apakah dia dikenal di jaman Majapahit? ataukah dia baru saja dikenal dalam khazanah budaya bangsa ini?
Bukankah orang Majapahit hidup lebih dahulu daripada Jogja – Solo – Mataram? khan di dalam Negarakertagama diceritakan bahwa Hayam Wuruk pernah mengunjungi desa-desa di pesisir selatan Jawa, kalau benar Nyai Ratu Kidul ini ada (paling nggak mitosnya) tentulah Mpu Prapanca yang menuliskan kunjungan Hayam Wuruk akan mengutip, paling tidak menceritakan sedikit mitos tsb di Negarakertagama?
Tapi bolak balik check di terjemahan Negarakertagama, kunjungan ke Kamirahan, Sadheng, kemudian Kutha Bacok (semuanya di pesisir selatan daerah Jember sekarang) ZONK, tak ada cerita tentang Ratu Kidul, tak ada kekaguman akan kekuatan sang Ratu, bahkan Hayam Wuruk pun ya sekedar lewat saja di pantai selatan Jawa, malah enjoy menikmati deburan ombak di pantai, tak ada laku-laku atau larung saji, atau penghormatan pada Ratu Pantai Selatan ini.
Padahal ditempat lain, kalau ada mitos, ada cerita dewa-dewa sekitar tempat yg dikunjungi sang raja, Mpu Prapanca dengan cermat menceritakannya, bagaimana Hayam Wuruk mendoakan entitas tsb digambarkan dengan runut, nah kalau ga disebutkan, artinya mitos ini memang tidak ada, belum dilahirkan di masa itu.
Disini, pikiran malah sejenak terlena dengan kehidupan masa Hayam Wuruk, wuih bagaimana ya suasananya perjalanan rombongan ningrat masa itu, diiringi banyak gajah, kereta, prajurit kuda, para pembesar berikut sang Mahapatih Gajah Mada pun ikut di dalamnya, kolosal sekali, ribuan jumlahnya karena perbekalan, pakaian, hadiah tentulah harus diangkut oleh awak istana dari Trowulan, kearah Malang, ke Lumajang, kemudian turun menyisir pantai selatan di daerah Jember, lalu rombongan bergerak ke utara lewat Bondowoso, Besuki – Probolinggo menyusuri pantura – tapal Kuda dan kembali ke Trowulan, semuanya terekam dalam Negarakertagama, dan tak satupun ada cerita kedahsyatan Suzana eh Ratu Kidul.
Begitu juga dengan Pararaton, cerita tentang tokoh sentral penguasa dunia lain di pesisir selatan ini juga absen, tak ada kisah atau ciri tokoh astral yang bisa dikonotasikan dengan Ratu Kidul.
Nah ketika membaca babad Tanah Jawi, barulah disini nongol itu cerita Ratu Kidul ini, tapi ya tiba-tiba langsung berkuasa di laut Selatan memerintah bangsa jin & lelembut seluruh Jawa, menjadi istri ghoib Danang Sutawijaya, butuh bantuan panggil saja, mampu membuat gunung meletus sehingga balatentara Pajang urung menyerang Mataram, dahsyat memang kalau membaca tentang Ratu Kidul di Babad Tanah Jawi.
Karena Babad Tanah Jawi adalah produk jaman Kasunanan Surakarta/Jogjakarta, artinya mitos ini difabrikasi ya di abad 18 -19an, paling jauh, tentulah jaman Mataram Islam akhir abad 16-17, karena kemunculan Sang Ratu ada di jaman pendiri Mataram tsb, tidak ada sumber primer manapun yg menerangkan bahwa mitos Nyai Rara Kidul sudah berakar di jaman kejayaan Majapahit di abad 14.
Memang wajar ketika suatu kerajaan berdiri, legenda, cerita heroik diseputar tokoh dan bangsawan yang sedang berkuasa dibuat guna memberi daya hormat, efek magis, penggentar ataupun kekaguman, terutama kepada rakyatnya, dari cerita ini diharapkan wibawa sang penguasa akan terjaga sehingga kekuasaan akan langgeng dipegangnya.
Begitulah mitos Nyai Ratu Kidul telah merubah lanskap budaya di pantai Selatan Jawa bahkan masyarakat Jawa itu sendiri, tapi ada satu hal yang tidak berubah disana, keindahan panorama carkrawala biru dihiasi deburan ombak besar menghantam karang yang pernah dinikmati Prabu Hayam Wuruk, masih tetap bisa kita rasakan kemegahannya.










