Suralaya,– Diantara dentuman mesin dan terang cahaya dari PLTU Jawa 9 dan 10, terdengar pelan suara-suara dari warga yang tinggal di sekitarnya. Proyek pembangkit listrik berkapasitas 2×1000 megawatt ini berdiri megah sebagai salah satu tonggak kemajuan energi nasional. Namun bagi sebagian masyarakat Suralaya, kemajuan itu terasa belum sepenuhnya memeluk mereka.
Dikelola oleh PT Indo Raya Tenaga (IRT)—perusahaan patungan antara PT PLN Indonesia Power dan Barito Pacific—PLTU ini digadang-gadang sebagai pembangkit masa depan. Dengan teknologi Ultra Super Critical (USC) dan kesiapan mengadopsi amonia serta hidrogen hijau sebagai bahan bakar, proyek ini menjadi ikon transisi energi yang lebih bersih.Selasa (06/05/25)
Namun, di tengah segala capaian teknologinya, beberapa warga setempat merasa masih ada ruang besar untuk perbaikan, khususnya dalam aspek sosial, seperti akses tenaga kerja bagi masyarakat lokal. Beberapa pemuda mengaku telah berulang kali mengajukan lamaran kerja, namun belum memperoleh hasil yang diharapkan.
“Kami ingin berkontribusi di tanah kelahiran kami sendiri,” ungkap Yadi, pemuda setempat.
“Namun sejauh ini, jalannya belum terbuka bagi kami.”
Yadi menyampaikan harapan agar proses rekrutmen ke depan dapat lebih terbuka dan memberi peluang yang proporsional bagi masyarakat di sekitar proyek. Menurutnya, kehadiran PLTU seharusnya tidak hanya menghadirkan kemajuan teknologi, tetapi juga membuka ruang keadilan sosial yang lebih merata.
Ia juga berharap pemerintah daerah—baik di tingkat kota, provinsi, maupun kelurahan dan kecamatan—dapat hadir sebagai jembatan penghubung antara warga dan perusahaan, agar komunikasi dan aspirasi masyarakat dapat tersampaikan dengan baik.
“Kami percaya, dengan keterbukaan dan niat baik semua pihak, keberadaan PLTU ini bisa menjadi berkat bagi semua,” tambahnya.
Warga juga menyuarakan pentingnya transparansi dalam setiap proses ketenagakerjaan, agar tidak muncul persepsi bahwa peluang kerja hanya tersedia bagi segelintir pihak. Menurut mereka, kejelasan informasi dan sistem yang adil akan sangat membantu mengembalikan kepercayaan masyarakat.
Hingga laporan ini diterbitkan, pihak PT Indo Raya Tenaga dan manajemen PLTU Jawa 9–10 belum memberikan pernyataan resmi terkait aspirasi dan keluhan yang disampaikan warga.
Meski demikian, harapan tetap menggantung di udara Suralaya—bahwa satu saat nanti, suara dari pinggir pagar akan mendapat ruang untuk didengar, dan anak-anak kampung sendiri akan turut andil dalam membangun masa depan yang sedang dinyalakan di halaman mereka. (Red-Bsn)












