Cilegon,– Satu per satu kendaraan melaju cepat di atas flyover menuju Pelabuhan Merak. Sementara di bawahnya, dunia lain terhampar: beberapa orang dengan gangguan jiwa (OGDJ) tidur beralas kardus, duduk termenung, atau berbicara sendiri dalam ruang yang sunyi dan terabaikan.
Flyover ini bukan hanya infrastruktur penting, tapi simbol arus ekonomi dan mobilitas nasional. Namun pemandangan di bawahnya memperlihatkan wajah buram kota yang belum sepenuhnya hadir untuk warganya yang paling rentan.
Pemandangan OGDJ di bawah flyover bukan hal baru. Beberapa warga sekitar menyebut, keberadaan mereka sudah berlangsung berbulan-bulan. Namun hingga kini, tidak tampak ada upaya penanganan konkret dari pemerintah setempat.
“Yang ini sering kelihatan tidur di dekat tiang jembatan. Kalau malam kadang ngobrol sendiri, kasihan sebenarnya,” ujar Sari, penjual kopi keliling yang biasa mangkal di sekitar flyover.
Keberadaan mereka bukan hanya soal estetika, tapi soal keselamatan. Lokasi tersebut tidak aman: lalu lintas padat, suara bising, debu kendaraan, hingga risiko kecelakaan. Belum lagi cuaca ekstrem yang dapat mengancam kesehatan mereka.
Dinas Sosial Kota Cilegon belum terlihat mengambil langkah konkret. Awak media sudah mengajukan permintaan konfirmasi, namun belum mendapat jawaban resmi.
Padahal, menurut Undang-Undang No. 18 Tahun 2014 tentang Kesehatan Jiwa, pemerintah daerah memiliki tanggung jawab penuh dalam penyediaan layanan rehabilitasi dan perlindungan terhadap ODGJ, termasuk layanan psikososial dan fasilitas pemulihan.
Aktivis sosial menyebut persoalan ini tak bisa ditunda.
“Ini bukan kasus tunggal. ODGJ terlantar ada di berbagai titik kota. Tapi yang di bawah flyover Merak ini sangat mencolok karena lokasinya strategis. Kalau ini saja tak ditangani, bagaimana dengan yang lebih tersembunyi?” ujar Zaeinal, pegiat sosial dari “Jangan Tunggu Viral Dulu”
Kritik publik kini mulai bermunculan di media sosial. Beberapa pengguna membagikan foto OGDJ yang tampak tidur di bawah flyover dan mempertanyakan sikap pasif Pemkot Cilegon.
“Citra kota industri, tapi ada orang tinggal di bawah jembatan. Ini bukan urusan viral, ini soal tanggung jawab,” tulis akun @CilegonBicara dalam unggahannya.
Para ahli menyarankan pendekatan lintas sektor: Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Satpol PP, hingga RSUD harus membentuk tim reaksi cepat ODGJ. Bukan hanya untuk memindahkan mereka, tapi memberi asesmen medis dan layanan berkelanjutan.
Tanpa itu, wajah di bawah flyover hanya akan berganti orang, tapi masalahnya tetap: kota yang membiarkan warganya hidup di antara debu dan beton. (Red-Bsn)












