Aceh Utara,buanasenanews.com, 22 Mei 2026 – Enam bulan berlalu sejak bencana ekologis melanda wilayah Aceh Utara dan sejumlah daerah di Sumatera pada 26 November 2025 lalu, upaya pemulihan kehidupan masyarakat terus digulirkan. Seiring beralihnya perhatian publik dan dicabutnya status tanggap darurat sejak akhir Januari 2026, warga Desa Leubok Pusaka, Kecamatan Langkahan, mulai berbenah dan berusaha bangkit kembali.
Terletak di kawasan yang diapit oleh kawasan investasi berskala besar, warga Desa Leubok Pusaka harus mengandalkan kemandirian untuk memulihkan kondisi sosial-ekonomi dan lingkungan mereka. Menanggapi tantangan tersebut, Institut Hijau Indonesia (IHI), dengan dukungan pendanaan dari Nusantara Fund, memilih desa ini sebagai lokasi utama pendampingan pemulihan ekologi sekaligus pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Pemilihan desa ini didasarkan pada tingkat kerusakan yang cukup parah akibat bencana. Data yang dihimpun menunjukkan sebanyak 560 unit rumah mengalami kerusakan, mulai dari kategori ringan, sedang, hingga hancur total. Angka ini mencakup sekitar 90 persen dari total pemukiman warga. Tak hanya permukiman, lahan pertanian dan kawasan perkebunan di sekitar desa juga mengalami kerusakan yang berdampak langsung pada mata pencaharian warga.
Melalui program pendampingan ini, IHI berfokus pada penguatan kapasitas kelompok perempuan, pemuda, dan pelajar. Berbagai bentuk kegiatan dikembangkan, antara lain pembentukan kelompok tani perempuan, kelompok pelajar peternak itik petelur, serta pelatihan keterampilan kelistrikan bagi kaum muda. Hal tersebut diungkapkan oleh Irva, perwakilan Institut Hijau Indonesia.
“Sejauh ini, pembentukan kelompok tani perempuan dan kelompok pelajar peternak itik petelur sudah mulai berjalan. Khusus pada 22 hingga 23 Mei 2026, kami juga menyelenggarakan pelatihan pembuatan pupuk organik cair, herbisida, dan insektisida alami, serta materi pengenalan karakteristik dan tingkat keasaman tanah,” jelas Irva.
Kegiatan pelatihan ini bertujuan membekali para petani perempuan dengan pengetahuan teknis agar lahan yang rusak pasca bencana dapat dimanfaatkan kembali secara produktif. Selain itu, program ini diharapkan mampu mengurangi hingga meniadakan ketergantungan petani terhadap bahan kimia sintetis, baik pupuk maupun pestisida, yang dinilai kurang ramah lingkungan.
“Kami berharap ke depannya, hasil pertanian yang dikonsumsi oleh warga maupun masyarakat luas benar-benar merupakan produk yang sehat, aman, dan ramah lingkungan,” tambah Irva.
Respon masyarakat terhadap rangkaian kegiatan tersebut terlihat sangat positif. Leli, Ketua Tim Penggerak PKK Desa Leubok Pusaka, mengaku materi yang disampaikan merupakan hal baru dan sangat bermanfaat bagi warga.
“Selama ini, kami belum pernah mengenal kerja kelompok maupun memiliki pengetahuan tentang cara membuat pupuk alami, pengendalian gulma, hingga cara mengetahui kondisi tanah. Bagi kami, ilmu ini sangat berharga. Kami mewakili seluruh warga Desa Leubok Pusaka menyampaikan terima kasih kepada Institut Hijau Indonesia. Bisa dilihat sendiri, para ibu-ibu di sini sangat antusias dan senang mengikuti setiap sesi pelatihan,” ujar Leli.
Hingga kini, pendampingan dan pemantauan terus dilakukan oleh tim IHI untuk memastikan ilmu dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan dalam upaya pemulihan pasca bencana di desa tersebut. (Red-Bsn)












