Dugaan Pengerjaan Tidak Profesional dan Asal-Asalan Revitalisasi SDN 1 Cihara: Siapa yang Bertanggung Jawab?

Lebak,- Pengerjaan revitalisasi SDN 1 Cihara di Kecamatan Cihara, Kabupaten Lebak-Banten, diduga tidak profesional dan asal-asalan. Pihak yang bertanggung jawab atas proyek ini diduga menggunakan bahan bangunan pasir laut dan baja ringan bekas/yang lama, serta membiarkan pekerja tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) yang memadai. Minimnya pengawasan menjadi salah satu penyebab utama dugaan penggunaan bahan tidak sesuai standar.

Program Revitalisasi Satuan Pendidikan Direktorat Jendral Pendidikan Anak Usia Dini Pendidikan Dasar dan Menengah. Sumber dana APBN yang sangat pantastis mencapai Rp.799.699.538,- tahun 2025, Pelaksana Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP), waktu pelaksanaan 100 hari kalender, yang mana kegiatan tersebut diduga tidak sesuai dengan spesifikasi teknis dan (RAB) serta minimnya pengawasan dari pihak yang terkait.

Berdasarkan investigasi yang dilakukan awak media Buanasenanews.com di Lapangan, Kamis (23/10/ 2025), ditemukan berbagai kejanggalan dalam pelaksanaan proyek ini. Mulai dari penggunaan material yang dipertanyakan, seperti baja ringan bekas/yang lama, pasir laut hingga minimnya dukungan perlengkapan Alat Pelindung Diri (APD), Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3).

Tampak jelas di beberapa tempat pada bangunan menggunakan bahan material bekas/lama yang keliatan rapuh dan berkarat, baik pada baja ringan penyangga maupun atapnya, dan bukan hanya hal tersebut tampak jelas para pekerja tidak mengindahkan terkait keselamatan dan kesehatan kerja Alat Pelindung Diri (APD), tentu hal ini sangat riskan terjadinya kecelakaan kerja.

Dalam wawancara dengan awak media Buanasenanews.com, Kamis 23 Oktober di lokasi, salah satu pekerja Revitalisasi Satuan Pendidikan yang enggan disebutkan namanya menjelaskan bahwa material lama masih bisa digunakan jika masih dalam kondisi baik.” Saya cuma pekerja di bagian tembok gedung, seer nu te di gentos bajaringanmah, soalna masih layak di pake, hampir sadayana, amun atas di gentos, (banyak yang tidak di ganti baja ringannya, soalnya masih layak di pakai, hampir semuanya, kalo atap di ganti),” ungkap pekerja.

Pengerjaan proyek ini sangat memprihatinkan karena menggunakan baja ringan lama yang sudah lapuk dan berkarat, padahal semestinya material tersebut diganti untuk memastikan kekuatan dan keselamatan struktur. Dugaan penggunaan material lama ini diduga demi meraup keuntungan, yang sangat berisiko bagi keselamatan pengguna bangunan. Tindakan tegas perlu diambil untuk memastikan proyek ini selesai dengan baik dan aman.

Kurangnya pengawasan membuat para pekerja bekerja asal-asalan dan mengabaikan keselamatan kerja. Mereka tidak mengenakan APD karena alasan pekerjaan menjadi lambat dan ribet. Ini menunjukkan kurangnya kesadaran akan keselamatan dan kualitas pekerjaan. Tindakan tegas perlu diambil untuk memastikan proyek ini selesai dengan baik dan aman,” Kalu pake spatu bot Jalannya lambat jadi ngesot dan ribet.” Ujar pekerja.

Kepala Sekolah SD Negeri 1 Cihara saat dikonfiramasi awak media Buanasenanews.com memberikan klarifikasi terkait penggunaan baja ringan bekas pada proyek revitalisasi sekolah. Menurutnya, baja ringan bekas tersebut masih bagus, kokoh, dan layak digunakan. “Gak diganti (ke- red) yang diganti dari bawah ke atas cuman rangka baja tidak diganti, soalnya masih bagus, kokoh dan layak pake,” ungkapnya.

Kepala sekolah juga membela kualitas baja ringan bekas yang digunakan, menyatakan bahwa baja tahun 2008 tersebut memiliki kualitas yang lebih baik. “Soal rangka bajamah kualitasmah bagusan ini yang lama, besi tahun 2008,” katanya.

Saat ditanya tentang RAB, kepala sekolah menegaskan bahwa proyek tersebut telah sesuai dengan rencana anggaran biaya. “Atuh sesuai heh ngarang bae…(ya sesuai lah ngarang ajah) kalo tidak sesuai RAB ini kan bukan ratusan ribu tapi puluhan juta,” ujarnya dengan yakin. (K’San)