Lebak,-Menyusul gejolak akibat hoaks tentang almarhum Ama Ekeng yang disebut bangkit kembali sebagai “pocong”, keluarga telah mengambil tindakan tegas dan bijaksana, menegaskan bahwa ini adalah peringatan keras bagi siapa pun yang menyebarkan kebohongan.
Meskipun diliputi kesedihan, keluarga memilih jalur hukum moral dengan pemaafan bersyarat demi mencegah terulangnya insiden memalukan ini,
Peringatan Keras Lewat Pemaafan Tidak Akan Ada Lagi Toleransi,
“Ibu Heni, salah satu perwakilan keluarga almarhum Ama Ekeng, dengan lugas menyatakan sikap keluarga setelah bertemu dengan Arip, terduga penyebar hoaks.
Arip telah mengakui kesalahannya dan menyatakan penyesalan mendalam, menjelaskan bahwa foto yang digunakan diambil dari media sosial dan dimaksudkan untuk menakut-nakuti anaknya, tanpa niat menyebarkan hoaks.
Kami sudah bertemu dengan yang bersangkutan, dan dia sudah mengakui kesalahannya serta meminta maaf, Kami sebagai keluarga tidak ingin kejadian seperti ini terulang kembali, Pemaafan ini adalah peringatan keras.!
Jika terulang, kami tidak akan segan mengambil langkah lebih lanjut,” tegas Ibu Heni.
“Pernyataan ini jelas menunjukkan bahwa meskipun keluarga memilih untuk memaafkan, pemaafan tersebut bukan tanpa syarat.
Ini adalah ultimatum agar siapa pun yang berniat menyebarkan disinformasi serupa, memahami konsekuensi dari perbuatannya.
Kecamatan cijaku,Lebak banten.
20/06/2025.
Keluarga Ama Ekeng menegaskan bahwa batas kesabaran mereka sudah tercapai dan tidak akan mentolerir pelanggaran serupa di kemudian hari.
Komitmen Keluarga dalam Melawan Hoaks
Tindakan keluarga Ama Ekeng lebih dari sekadar respons pribadi; ini adalah komitmen nyata dalam melawan penyebaran hoaks, Dengan memaafkan namun tetap memberi peringatan keras, mereka berharap dapat menciptakan efek jera.
Pesan inti yang disampaikan adalah pentingnya verifikasi informasi dan dampak merusak dari berita bohong, terutama yang menyangkut kehormatan individu dan ketenangan publik.
Keluarga Ama Ekeng secara tegas mendukung imbauan agar masyarakat senantiasa kritis dan tidak mudah percaya pada informasi tanpa fakta atau sumber kredibel.
Mereka menyerukan kepada setiap individu untuk lebih bertanggung jawab dalam menggunakan media sosial dan menyaring informasi, demi menjaga nama baik almarhum, privasi keluarga, serta ketenteraman sosial.
Ini adalah panggilan untuk kebijaksanaan kolektif agar insiden hoaks yang merugikan seperti ini tidak terulang kembali. (Wa”n)












